jump to navigation

PRESIDEN UNTUK PENDIDIKAN BERKUALITAS January 17, 2011

Posted by bustanularifin in Serbaneka.
trackback

(artikel ini  saya kirim ke SURYA walau belum ada jawaban untuk dimuat, kalau ke kompas dengan judul yang sedikit berbeda sudah ada jawaban DITOLAK hehe)

Genderang pemilihan presiden segera dimulai! Tiga kandidat pasangan presiden dan wakilnya sudah mendaftarkan diri ke KPU. Nomor urut untuk kampanye pun sudah diputuskan. Tim sukses masing-masing kandidat sudah mulai bergerak menyusun strategi. Artikel lain sudah banyak yang mebahas visi ekonomi, sosial, politik, dan lainnya namun masih sangat jarang yang mengangkat visi pendidikan. Kesenjangan pendidikan kota besar dan kota kecil makin terbuka lebar. Kurikulum bongkar pasang seiring bergantinya pemerintahan masih terus berjalan. Nasib para guru tetap disia-siakan. Kondisi sekolah yang nyaris roboh, serta banyak hal lain yang masih perlu pembenahan untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita. Bagaimana visi para kandidat presiden untuk membangun pendidikan kita yang berkualitas? Akankah dunia pendidikan kita dibiarkan terpuruk? Dalam artikel ini akan diuraikan potret pendidikan kualitas dunia serta kerangka menuju perbaikan di masa mendatang.
Potret Pendidikan Terbaik Dunia
Negara yang kualitas pendidikannya berada di peringkat pertama dunia adalah Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 dan 2006 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama OECD Programme for International Student Assessment (PISA) yang mengukur kemampuan siswa di bidang sains, membaca, matematika, dan pemecahan masalah melalui tes tertulis dan karangan (paper and pencil test). Sasaran responden adalah para siswa usia 15 tahun (kalau di Indonesia setingkat pelajar SMP kelas 3 atau SMA kelas 1). Kuesioner latar belakang siswa ditujukan untuk menelusuri cara belajar dan keluarga para siswa. Kuesioner tentang manajemen sekolah diberikan kepada para kepala sekolah. Pada tahun 2006 negara Finlandia meraih angka tertinggi 563 mengalahkan negara-negara lainnya, sama dengan prestasi terbaik mereka pada tahun 2003. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Suervei OECD berikutnya dilaksanakan tahun 2009 (sekarang masih berlangsung).
Kunci sukses pendidikan berkualitas di negara Finlandia tersebut dapat dirunut sebagai berikut. Dalam masalah anggaran pendidikan, Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa, tetapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya. Finlandia tidaklah menggenjot siswanya dengan menambah jam belajar, memberi beban PR (pekerjaan rumah) berlebihan, menerapkan disiplin tentara, atau melatih siswa dengan berbagai tes/ujian. Sebaliknya, para siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun. Jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam per minggu.
Lalu, apa kunci suksesnya? Kuncinya terletak pada kualitas gurunya. Para guru di Finlandia boleh dikatakan sebagai guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru di Finlandia adalah profesi yang sangat dihargai dan dihormati, walaupun gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah (maksudnya SMA) terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan atau keguruan. Hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima yang berarti lebih ketat persaingainnya daripada masuk ke fakultas/sekolah bergengsi lainnya, seperti fakultas hukum atau kedokteran!
Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan serta pelatihan guru yang berkualitas tinggi, tidak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode belajar apa pun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri dan buku pegangan yang mereka pilih sendiri. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka (negara Finlandia) justru percaya bahwa ujian itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. “Terlalu banyak tes/ujian membuat kita cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian”, ungkap seorang guru di Finlandia. “Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur hanya dengan tes/ujian”, demikian ungkap para guru selanjutnya.
Masih cerita lanjut di negara Finlandia. Pada usia 18 tahun (setara dengan lulusan SMA di negara kita) para siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dengan hasil bahwa hanya dua dari tiga siswa saja yang dapat melanjutkan ke perguruan tinggi. Para siswa diajarkan untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak sekolah dasar. “Hal ini membantu para siswa untuk belajar betanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri”, kata Sundstrom seorang kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. “Kalau mereka bertanggungjawab, maka mereka akan bekeja lebih bersemangat. Guru tidak harus selalu mengontrol mereka”, ungkap guru lainnya.
Para siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Para siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang dibutuhkan. “Kita tidak belajar apa-apa kalau hanya menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Di sini guru tidak mengajar dengan metode ceramah”, kata Tuomas Siltala salah seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. “Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan sehingga belajar menjadi tidak menyenangkan”, kata Tuomas selanjutnya. Para siswa yang ‘lambat’ mendapat dukungan yang intensif. Berdasarkan temuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil terjadi perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk. Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan, tetapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri.
Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan perilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan pada tujuan-tujuan yang harus dicapai, misalnya: mulai masuk kelas, kemudian datang tepat waktu, berikutnya bawa buku, dan seterusnya. Kalau mendapat PR (pekerjaan rumah) para siswa bahkan tidak perlu menjawab dengan benar, yang penting adalah mereka telah berusaha. Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika guru mengatakan ”Kamu salah” pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Jika para siswa merasa malu, maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta untuk membandingkan hasil mereka dengan nilai mereka sebelumnya, bukan dengan siswa lainnya sehingga tidak perlu ada sistem peringkat. Setiap siswa diharapkan untuk bangga terhadap diri mereka masing-masing. Cara dengan memberi peringkat hanya akan membuat para guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya dan mengabaikan sejumlah besar siswa lainnya yang dianggap kurang.
Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi, dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. “Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya”, kata seorang guru. Benar-benar ucapan seorang guru yang bertanggungjawab!
Saran Untuk Calon Presiden
Dari gambaran di atas dapatlah disarankan kepada calon presiden terpilih 2009-2014 nanti beberapa hal. Pertama, pembenahan mendasar untuk meningkatkan kesejahteran para guru. Canangkan program untuk lebih menghargai para guru kita, misalnya dengan pembebasan SPP bagi anak-anak guru seluruh Indonesia hingga lulus SMA, pemberian potongan harga kepada guru untuk membeli buku, laptop, rumah, biaya listrik, air, telpon, tiket bis hingga pesawat, dan banyak lagi yang lainnya. Kedua, berikan kepada para guru kebebasan untuk menjalankan program belajar-mengajar tanpa harus dikekang oleh target jumlah kelulusan siswa. Kreativitas guru serta hasil capaian siswa sehingga menjadi cerdas dalam menghadapi perosalan nyata (matematika, membaca, sains, dan pemecahan masalah) merupakan ’ukuran’ dari pendidikan berkualitas. Ketiga, setelah dua usulan pertama dapat berjalan, lakukan program menarik minat siswa-siswa yang pandai untuk masuk ke fakultas pendidikan. Sarana dan prasarana di fakultas pendidikan pun perlu dibenahi sebagai wahana penting untuk mencetak calon guru yang berkualitas. Apakah kandidat presiden kita akan peduli dengan visi pendidikan berkualtias ini? Semoga saja!
Pendidikan di Indonesia masih jauh dari harapan walau sudah cukup banyak pakar pendidikan dengan kualifikasi doktor untuk menjadikannya lebih berkualitas. Kita sangat berharap dan masih sangat berharap bahwa kualitas pendidikan di negera Indonesia tercinta akan menjadi lebih baik di masa mendatang. Semoga semua guru sempat membaca tulisan ini sekaligus dapat berbenah diri. Semoga ketiga kandidat pasangan presiden dan wakilnya sempat menyimak artikel ini untuk siap melakukan pembenahan dunia pendidikan kita. Semoga pemerintahan mendatang dapat menyusun kebijakan yang lebih berpihak kepada peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh, khususnya dalam upaya ’mencerdaskan kehidupan bangsa’ seperti yang diamanatkan pada pembukaan UUD 1945. Terima kasih ibu dan bapak guru di seluruh pojok negeri tercinta. Anda semua adalah pahlawan bangsa yang sesungguhnya! Pilihlah kandidat presiden dan wakilnya yang peduli pada pendidikan berkualitas!

Comments»

1. santosdillard75639 - April 8, 2016

I’ve stumbled upon your blogsite. I’m happy there’s one for Butuan. Any new updates? I love to read more. Come on http://tropaadet.dk/santosdillard75639081845


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: