jump to navigation

Logistik dan Akuntabilitas Bantuan Bencana June 14, 2006

Posted by bustanularifin in Serbaneka.
trackback

Bencana alam datang lagi! Kali ini di Jogyakarta dan sekitarnya yang menyebabkan korban jiwa cukup besar. Cukup besar karena ada yang lebih besar dari itu, yaitu bencana Tsunami di Aceh dan sekitarnya belum lama ini. Inna Lillahi wa-inna ilaihi Raji’un (sesungguhnya semua kepunyaan Allah dan akan kembali kepada-Nya). Jogyakarta berkabung demikian juga Indonesia berkabung, bahkan ada penulis asing mengatakan bahwa dunia pun berkabung untuk Jogyakarta dan sekitarnya. 

Bantuan dari saudara sebangsa sungguh patut disampaikan kepada mereka yang terkena musibah. Rasanya, belum kering air mata ini untuk saudara kita di Aceh dan sekitarnya. Kini, air mata dan duka datang kembali untuk saudara kita di Jogyakarta dan sekitarnya. Rasanya, belum tuntas masalah bantuan ke Aceh dan daerah bencana lainnya terlebih soal akuntabilitas semua bantuan.  Dalam artikel ini disertai dengan perasaan duka yang mendalam akan dibahas tentang bagaimana logistik bantuan bencana serta akuntabilitas kegiatan yang akan, sedang, dan telah dilaksanakan. 

Logistik Bantuan BencanaKoran, televisi, radion, dan media lainnya serempak kompak bergerak menggalang dana bantuan untuk korban bencana. Masih teringat bagaimana semua saluran televisi kita yang skala nasinal atau lokal menampilkan jumlah pemasukan dana bencana. Nomor rekening ’peduli’ dibuka oleh setiap pengelola televisi, radion, koran, dan media lainnya. Bagaimana persoalan logistik bentuan bencana? 

Manajemen logistik pertama kali digunakan untuk tujuan militer. Kebutuhan apa saja, berapa jumlahnya, kapan digunakan, dan untuk tujuan apa saja dalam mendukung pasukan perang di kala itu sangatlah penting untuk disiapkan secara matang. Logistik perang namanya. Kemudian, untuk tujuan bisnis atau usaha juga diperlukan manajemen logistik yang dapat menjamin ketersediaan bahan baku, komponen, barang setengah jadi, dan barang jadi yang akan didistribusikan kepada pelanggan. Manajemen logistik juga diperlukan untuk kegiatan nirlaba, termasuk penggalangan dana bantuan bencana alam. 

Logistik bantuan bencana mencakup kegiatan  ’identifikasi’ kebutuhan, ’pengumpulan’ dana dan aneka kebutuhan, serta ’pendistribusian’ kepada mereka yang benar-benar tertimpa bencana yang perlu bantuan. Identifikasi kebutuhan bagi korban bencana dapat berupa pakaian, makanan, obat, tenda, perabotan, air bersih, tenaga medis, sarana MCK, bahkan hingga polisi atau tentara. Persoalan identifikasi kebutuhan ini masih sering kurang sistematis dan terkesan apa adanya. Pemerintah pun sering terlambat melakukannnya sementara para korban bencana sudah makin tidak berdaya untuk berteriak minta bantuan. Lembaga swadaya mungkin banyak yang lebih cepat dan tanggap terhadap aneka kebutuhan masyarkat yang terkena bencana.Persoalan kedua adalah ’pengumpulan’ dana dan aneka kebutuhan yang tampaknya terjadi ’kesadaran bersama’ untuk bergerak menggalang dana bantuan. Tidak kurang salah satu stsiun TV nasional yang menampilkan secara langsung via telepon tentang mereka yang serentak memberikan bantuan puluhan hingga ratusan juta rupiah dengan tulisan nama penyumbang yang sangatgamblang. Itu baik-baik saja! Hampir di tiap pusat kegiatan di seluruh kota pun ramai dengan pencarian dan pengumpulan dana peduli bencana. Sidang kabinet pun digelar untuk merumuskan langkah darurat bantuan bencana. Dari anak SD hingga mahasiswa menggelar pencarian dana peduli bencana. Masyarakat pun bergerak mencari dana peduli bencana. Itulah solidaritas kita sebagai sesama manusia yang peduli kepada saudara kita yang tertimpa musibah. Namun, entah kemana akhirnya pergi dan kembalinya dana peduli ini? Semoga benar dapat dikumpulkan dan selanjutnya dapat diberikan kepada mereka saudara kita yang tertimpa musibah! 

Persoalan ketiga yang paling musykil dan masygul adalah ’pendistribusian dana’. Banyak kita temukan bagus dan indahnya berita di TV atau koran, namun semuanya tidak seindah dalam kenyataan di kancah bencana. Masih tersisa ingatan kita saat di Aceh lalu ’tumpukan bantuan’ yang tidak pernah sampai kepada para korban bencana hingga busuk atau terbuang percuma. Atau, dana bantuan yang disalahgunakan oleh beberapa pihak tertentu. Akankah hal itu terjadi kembali di Jogyakarta dan sekitarnya? Semoga tidak! 

Ketiga soal logistik bantuan bencana tersebut masih akan tetap hadir manakala ada bencana lagi. Dan, pemecahannya pun tetap kabur tanpa ada yang mau bertanggungjawab! Media TV, koran, atau lainnya tetap diharapkan untuk membacakan semua itu kepada masyarakat. Jangan hanya yang bersifat seremonial dan kosmetik yang ditampilkan, tetapi justeru fakta dan fenomena nyata lah yang harus ditampilkan untuk dibaca oleh masyarakat luas. Inilah yang dimaksudkan dengan akuntabilitas bantuan bencana. 

Akuntabilitas Bantuan BencanaAndaikan saja ada 100 juta warga Indonesia yang menyumbang rata-rata 10 ribu rupiah, maka akan terkumpul dana sebesar 1 trilyun rupiah (dengan 12 nol di belakang angka 1). Belum lagi bila ditambah bantuan pihak asing. Jumlah yang sangat besar dan cukup untuk membangun kembali Jogya dan sekitarnya! Saatnya, kita perlu akuntabilitas bantuan bencana untuk melihat bagaimana pertanggungjawaban atas ’pencarian’ dan ’pendistribusian’ dana bencana bahkan untuk seluruh bencana alam yang terjadi. 

Tidak cukup dengan akuntan publik, tetapi kita butuh ’akuntan rakyat’ yang hanya berharap kepada satu tujuan besar, yaitu akuntabilitas dana bantuan bencana. Pemerintah saja tidak cukup, LSM dan organisasi sosial keagamaan pun tidak cukup. Kita semua masyarakat yang peduli kepada kemanusiaan terpanggil untuk menjadi ’akuntan rakyat’ yang bermartabat. Audit dana bantuan peduli bencana oleh akuntan rakyat menjadi sebuah kebutuhan kita bersama.  

Saatnya bagi kita untuk berpikir dan berdoa. Saatnya berdoa bagi saudara kita yang tertimpa musibah semoga mereka diberi-Nya ketabahan dan keteguhan hati untuk menatap hari esok dengan hati yang makin ramah dan bersahabat dengan alam. Saatnya bagi kita untuk berpikir bagaimana cara mengatasi persoalan logistik bantuan bencana sekaligus akuntabilitasnya untuk keluar dari porak poranda kepada pembangunan budaya bangsa yang bermartabat. Semoga ALLAH SWT berkenan menolong dan memaafkan kita semuanya … amin!

Catatan:

Artikel ini pernah penulis kirimkan ke Kompas pada Mei 2006 namun tidak bisa dimuat karena alasan 'kurang pas'  – lumayan masih bisa dibaca oleh yang lainnya via blog ini ….

Comments»

1. Sri sulistyowati - October 2, 2007

transparansi dana bantuan. mungkin itu kata yang sangat tepat untuk disampaikan kemasyarakat. dan bantuan yang disampaikan oleh masyarakat baik melalui sms ataupun melalui transfer bank ke pusat penerima sumbangan , paling tidak adabukti kalau dana yang kita sumbangkan bakal sampai ketangan yang membutuhkan.

2. Sri sulistyowati - October 2, 2007

transparansi dana bantuan. mungkin itu kata yang sangat tepat untuk disampaikan kemasyarakat. dan bantuan yang disampaikan oleh masyarakat baik melalui sms ataupun melalui transfer bank ke pusat penerima sumbangan , paling tidak adabukti kalau dana yang kita sumbangkan bakal sampai ketangan yang membutuhkan.

Sri Sulistyowati (07.2004.1.02512) ITATS


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: