jump to navigation

Antara Guru dan Dosen May 9, 2006

Posted by bustanularifin in Serbaneka.
trackback

Siapa yang tidak kenal sosok guru? Tetapi, mungkin belum banyak yang kenal siapa sosok dosen? Guru telah dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat, baik di kota besar maupun desa terpencil yang masih punya sekolah. Dosen banyak dikenal di kota besar dan lebih terbatas jumlahnya, masih jarang dikenal oleh masyarakat di desa. Dalam artikel ini penulis ingin mengajak sidang pembaca melihat kedua sosok profesi tersebut secara lebih jernih. Sekaligus dengan artikel ini penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada para guru yang telah mendidik dan membuka cakrawala ilmu sehingga dapat menikmati pendidikan hingga S3 (masih berjalan) hingga saat ini. Ketika Jepang atau Jerman baru kalah perang, pemerintahnya mengidentifikasi berapa guru yang tersisa. Dari yang tersisa ini dilanjutkan dengan memperbaiki semua sarana dan prasarana yang diperlukan dan terus memperbanyak dan meningkatkan kualitas guru. Alhasil, mereka dan negara lain yang tetap memberikan perhatian besar kepada nasib para guru ini dapat bangkit kembali meraih kejayaan bangsa lebih cepat. Semua tidak terlepas dari jasa para guru (dan termasuk para dosen). Bagaimana dengan negara kita? Rasanya masih jauh dari memberi perhatian dan meningkatkan kesejahteraan para guru, yang terjadi bahkan upaya pelecehan profesi guru. Lebih dari 50 tahun kita merdeka, namun sungguh ironis tujuan mulia ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ tetap jauh dari kenyataan. Pembahasan akan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu sisi persamaan, sisi perbedaan, dan usulan perbaikan nasib guru – dosen. 

Sisi Persamaan Guru – DosenGuru dan dosen sama-sama mengemban tugas mulia seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD ’45 yaitu ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’. Guru dan dosen sama-sama menjadi sosok ‘diguru dan ditiru’ walau juga sering dilecehkan menjadi ‘diguyu dan ditinju’. Guru dan dosen sama-sama mempersiapkan diri untuk mengajar di depan kelas untuk memberi wacana dan ilmu untuk dapat hidup lebih sejahtera. Dari mereka lah banyak lahir orang-orang yang ‘sukses’ dan kaya-raya, sedangkan nasib mereka tetap seperti apa adanya.Guru dan dosen sama-sama terus mencai informasi tentang ilmu yang digeluti dan ilmu lain yang kian berkembang untuk disampaikan dan dibahas di depan kelas. Semangat mereka untuk dapat memberikan kontribusi keilmuan terus berkembang dan berlanjut hingga akhir hayat mereka. Guru dan dosen sama-sama menuntut ketulusan hati untuk mengabdi kepada negara, walau dengan imbalan yang seadanya. Mantan ketua PP Muhammadiyah pernah menulis tentang bagaimana nasib seorang guru besar (profesor) suatu universitas yang telah bekerja 30 tahun lebih dengan gaji kurang dari Rp. 3 juta? Nasib guru pasti lebih buruk dari itu, bahkan untuk mereka yang sudah bekerja dari 35 tahun pun?Guru dan dosen sama-sama menjadi pilihan ‘hanya segilintir’ calon guru dari lulusan SMA, karena memang porofesi ini menuntut ‘ketertarikan dan ketulusan hati’ untuk menjadi pilihan karier. Baru pada periode akhir-akhir ini saja minat menjadi guru atau dosen mulai tambah banyak, walau tetap kalah banyak dari mereka yang berniat menjadi profesional atau karywan perusahaan lainnya. Guru dan dosen sama-sama bisa menjadi PNS atau pegawai swasta di tempat kerjanya. Dan, masih ada persamaan lainnya antara guru dan dosen. 

Sisi Perbedaan Guru – DosenPerbedaan yang sangat mencolok antara guru dan dosen adalah dalam hal jumlah dan sebaran mereka. Jumlah guru lebih banyak dan tersebar merata di semua kota atau desa, sedangkan jumlah dosen masih terbatas dan hanya ada di kota besar.  Perbedaan guru dan dosen dapat diperhatikan dalam hal penghasilan. Para guru mendapat gaji dan bonus lain yang lebih kecil dibandingkan dengan para dosen. Perbedaan lainnya adalah bahwa para guru jarang yang punya ‘proyek’, sedangkan para dosen banyak yang  punya ‘proyek’ yang sering membuat para dosen lupa diri pada identitasnya.Perbedaan selanjutnya adalah soal kepangkatan. Para guru biasanya mentok di IV/a dengan masa jabatan sudah lebih dari 30 tahun, sedangkan para dosen bisa meraih IV/c hanya dalam waktu kurang dari 20 tahun. Guru dan dosen berbeda juga dalam hal jabatan fungsional, para guru belum mengenal jabatan fungsional sedangkan para dosen sudah sangat familiar dengan jabatan fungsional (asisten ahli, lektor, lektor kepala, dan guru besar atau profesor). Selanjutnya, tentang ‘gengsi’ dosen yang lebih tinggi daripada ‘gengsi’ guru. Masih banyak lagi perbedaan yang muncul antara guru dan dosen, silahkan anda tambahkan sendiri!  Hanya dari kalangan dosen yang sering menjadi ‘selebriti’ pembicara seminar atau talk show, sangat jarang dari kalangan guru yang jadi selebriti – kecuali Sundari Sukoco seorang guru yang nyambil jadi penyanyi keroncong. Penulis pun pernah 5 tahun menjadi guru di dua SMA swasta di Bandung saat menjadi mahasiswa ITB dan sangat menikmati saat-saat menjadi guru di hadapan siswa SMA. Kini, penulis menjadi dosen (PNS – jabatan fungsional sedang diusulkan ke lektor kepala) di ITS Surabaya. 

Saran Perabaikan Nasib Guru – DosenNasib dosen masih lebih baik daripada nasib para guru. Bahkan dengan adanya jabatan fungsional para dosen dapat menikmati ‘perbedaan perlakuaan’ dalam mengajar di universitas tempat mereka mengajar. Jabatan guru besar (profesor), lektor kepala, lektor, dan asisten ahli  jelas memberikan sumber penghargaan yang berbeda. Nasib para dosen sudah lebih baik, tinggal penyempurnaan di beberapa bagian. Nasib para guru akan lebih baik bila diberlakukan juga jabatan fungsional dengan angka kredit yang analog dengan jabatan fungsional dosen. Penulis memberanikan diri dan mengusulkan adanya hierarki jabatan fungsional guru. Dimulai dari guru asisten GA (setara asisten ahli untuk dosen), guru madya GM (setara lektor untuk dosen), guru kepala GK (setara lektor kepala untuk dosen), dan guru utama GU (setara guru besar atau profesor untuk dosen).  Ketentuan tentang jumlah angka kredit yang diperlukan untuk masing-masing tingkat jabatan dungsional guru dapat saja dilakukan dengan cara mengadopsi model yang digunakan untuk jabatan fungsional para dosen.Terakhir, penulis sependapat dengan artikel di Kompas sebelumnya tentang pemilahan guru. Ada guru yang terus menambah ilmu dan mencari metode pengajaran yang lebih baik, ada guru yang asal mengajar dan memberikan penilaian, dan ada guru yang tidak pernah lagi mau menambah ilmunya bahkan untuk disampaikan kepada para muridnya. Di kalangan dosen pun dapat dipilah kepada 3 kategori juga, yaitu dosen yang terus menambah ilmu dan pengalaman lapangan untuk diajarkan kepada para mahasiswa, dosen yang sibuk mencari ‘proyek’ dan sering lupa kepada para mahasiswa, atau dosen yang cukup ‘berpuas diri’ dengan bekal yang sudah ada untuk mengajar dan memberikan penilaian kepada mahasiswa tidak lebih atau kurang. Demikian, wallahu ‘alam! 

Catatan: artikel pernah saya kirimkan ke Kompas – walau tidak bisa dimuat! 

Comments»

1. Fery Setiyawan - October 2, 2007

Sosok Guru adalah orang tua kedua bagi saya ketika saya berada dalam lingkungan sekolah. tugas seorang guru dan dosen sangatlah berat. mereka diwajibkan mencetak anak-anak penerus bangsa yang berkualitas dari segi manapun. meskipun dari materi, guru lebih sedikit daripada seorang dosen, tapi niat mereka tulus akan keberhasilan anak didiknya. kebetulan ibu saya adalah seorang guru sekolah dasar, dengan jabatan terkhir IVa dan sekarang lagi sibuk-sibuknya mengurus sertifikasi PNS. kehidupan kami sangat harmonis, meskipun beliau sebagai tulang punggung keluarga ( ayah saya telah menunggal sejak saya berumur 14 tahun ). dari segi materi kami berkecukupan, dan alhamdulillah saya tidak pernah mengecewakan beliau. seorang guru dan dosen. merekalah yang mendidik anak penerus bangsa, merekalah yang menjadikan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi seorang Presiden Bangsa ini. Harusnya pemerintahan sadar akan nasib Guru dan Dosen di negri ini, merekalah yang mencerdaskan bangsa.Dasar pemerintah gak tau diri.

2. Aro - August 26, 2008
3. roro haptari ayu kinanti - April 15, 2009

bapak presiden jadi presiden bisa baca,hitung ,nulis,dari siapa?
bapak wapres jadi wapres bisa baca,hitung,nulis dari siapa?
bapak/ibu mentri yang ada di kabinet 2008/09 bisa, baca,hitung nulis dari siapa?
bapak gubernur,bupati/walikota,camat,lurah bisa baca,hitung,nulis dari siapa?
bapak ketua/wk.ketua MPR,DPR,DPRD bisa baca,hitung,nulis dari siapa?
jawabnya yang jujur yah jangan munafik!
setelah jadi pejabat sudah belum berkunjung /silaturachmi berterimakasihkepada guru,SD,SMP.SMA,PT/UNIVERSITAS yang membuat bapak-bapak menjadi pintar??
sudah bapak-bapak perhatikan belum nasib orang-orang yang membuat bapak-bapak menjadi pintar?? aahh jangan bohong!!!!!!!!!
ingat yah pak guru itu ibarat orang tua sendiri!!! jadi durhakalah kita bila tidak menghargainya!!!
jadi sejahterakanlah mereka!! jangan dicabut tunjangan profesi/fungsionalnya,malah harus ditingkatkan nominalnya!demi jasanya terhadap bangsa dan negara kita tercinta!
ta ada guru,:generasi muda,rakyat bodoh. negara besarpun kerdil
ta ada guru,: tentara,brimob,polisi bodoh.pertahanan negara seper
ti pagar tempe. contohnya: dikentutin angkatan laut –
malaysia takut ! (juga takut karna politik luar) payah
ingat !! jepang yang hancur,kotanya hirosima dan nagasaki di bom atom? ingatkan pak! apa yang pertama ditanya oleh kaisarnya! tidakada lain: yaitu berapa guru yang tersisa?? bukan berapa jen-
yang tersisa!. apakah masih di pungkiri, bahwa guru juga yang membantu berputarnya roda pemerintahan suatu negara,dan profesi pertama yang membuat laju pesatnya pembangunan suatu negara.hingga menjadi negara yang handal disegala sektor pem –
bangunan ( super power,tapi cinta damai ) mulyakan pak profesi guru itu!.indonesia sebenarnya negara yang kaya raya, ko tidak bisa yah menggaji guru seperti di malaysia! yang menggaji guru Rp 15.
000.000,oo/bulan . di indonesia Rp 3.000.000,oo/bulan oh iya…
di tambah sertifikasi,yang awalnya terasa tidak adil dirasakan oleh
guru-guru senior ( jam terbangg masa kerjanya 20-30 tahun)
guru baru dengan titel S1, jam terbang masa kerjanya 3 tahun bisa
bisa ikut bahkan langsung sertivikasi! disinilah terlihat kebodohan
perencana program sertivikasi. tidak tahu bagaimana menghargai pengalaman. ingat !! dimana-mana pekerjaan apapun, akan meng
hasilkan sesuatu yang baik. apabila dikerjakan yang berpengalaman
guru lulusan D2 masa kerja 30 tahun = hasil prodak………….???
guru lulusan S1 masa keja 3 tahun = hasil prodak………….???
bila anda memilih guru privat untuk anak anda yang kebetulan ber
masalah dengan mental belajarnya! guru mana yang akan anda pilih?
apa ini mungkin mental orang-orang pintar di indonesia!hanya me-
mikirkan wah nya daripada maslahatnya/hasil yang baik!
bila demikian sampai kapanpun dunia pendidikan di indonesia akan tertinggal jauh oleh negara lain, contohnya malaysia. padahal dulu malaysia belajar system pendidikan dari indonesia.
yyooo sadar, yyooo bangun bangsa. hentikan korupsi di sektor pen-
didikan, ingat allah dan jayakan indonesia raya.

4. Catatan Hidup - October 8, 2015

Ya, semoga saja kualitas pendidikan indonesia membaik


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: