jump to navigation

Kecerdasan Finansial February 28, 2006

Posted by bustanularifin in Serbaneka.
trackback

Kecerdasan finansial (FQ = Financial Quotient) baru muncul dalam kurun waktu terakhir ini saja. Apakah FQ itu? Bagaimana mengukur kecerdasan finansial orang? Atau, adakah orang yang tidak memiliki kecerdasan finansial? Anda masih ragu dengan terminologi ini?

Baiklah! FQ memang bukan barang baru, namun saat menyebutnya timbullah dugaan yang baru. FQ ditujukan kepada bagaimana kita (individu atau kelompok) mencari, menggunakan, dan mengembangkan ‘harta benda’. Harta benda ini bersumber dari keberadaan UANG sebagai alat tukarnya. Makin banyak jumlah uang yang dapat diperoleh makin tinggi kecerdasan finansialnya. Seseorang yang mampun mendapatkan uang 300 ribu per bulan tentu kalah cerdas secara finansial dibandingkan dengan orang lain yang mampu memperoleh uang 3 juta per bulannya. Orang yang mampu mendapatkan 3 juta juga masih kalah dengan orang lain yang memapu mendapatkan uang 300 juta, demikian seterusnya.

Banyak kita temukan di masyarakat orang-orang yang tidak cerdas secara finansial yang ditunjukkan dengan kemiskinan di setiap pelosok kota atau desa. Mungkinkah ada orang yang tidak memiliki kecerdasan finansial? Rasanya tidak ada! Hanya tingkat kecerdasan finansialnya yang tidak tinggi. Cerdas finansial tidak harus dari hasil kerja mandiri (sebagai entrepreneur), namun bisa juga dari hasil bekerja secara profesional dengan pihak lain (sebagai intrapreneur). Karyawan dengan gaji 3 juta per bulan dianggap sepadan dengan kecerdasan dan kontribusi dia kepada perusahaan, demikian juga karyawan lain yang hanya mendapat 600 ribu per bulan pun sepadan dengan kontribusinya juga. Seorang entrepreneur yang mampu menghasilkan omset penjualan 300 juta per bulan pastilah sepadan dengan kecerdasan finansial yang dimilikinya, begitu juga dengan entrepreneur lain yang hanya mampu mencapai omset 10 juta per bulan.

Kunci utama untuk menjadi cerdas secara finansial adalah kepada bagaimana pola keseimbangan antara begaimana mendapatkan (inflow) dan menggunakan (outflow). Formula umum yang sering digunakan adalah 10:10:80. Bagian pertama (10%) adalah prosentase yang dialokasikan untuk tabungan akhirat dengan cara memberi sedekah, sumbangan ke panti asuhan, masjid, gereja, dan banyak lainnya dengan harapan bisa mendapat balasan yang lebih besar dari Yang Maha Kuasa. Bagian kedua (10%) dialokasikan untuk investasi dunia dengan cara terus menanamkan modal guna pengembangan usaha berikutnya (bisa dengan tabungan di bank, pembelian saham, atau bentuk investasi lainnya yang sehat dan wajar). Sedangkan, bagian ketiga (80%) digunakan untuk aktivitas itu sendiri, baik sebagai biaya operasional, pemeliharaan, dan kegiatan lainnya. Formulasi ini dianggap yang paling minimal untuk tetap menjadi cerdas secara finansial.

Bagaimana prakteknya? Cobalah untuk mengalokasikan dana yang diperoleh untuk kegiatan tersebut di atas, buka untuk hal-hal yang tidak berguna.  Sekali lagi, siapkan 10% untuk ditabungkan demi akhirat anda, sedekah yang diberikan sungguh akan kembali dalam bentuk tambahan rejeki yang berlimpah untuk kita, bagian jariah yang diberikan untuk masjid akan kembali kepada kita juga, dan seterusnya. Siapkan yang 10% lagi untuk investasi dunia, perluasan bisnis, ekspansi dan eksplorasi ladang bisnis yang lebih menantang atau prospektif, semuanya akan kembali dlam bentuk yang berlipat ganda jumlahnya. Sisanya yang 80% digunakan untuk keseharian yang tidak mubazir, tidak berguna atau bahkan foya-foya. Semua digunakan untuk kegiatan positif yang dapat lebih memperkaya intelektual, spiritual, dan emosional kita. Semoga bermanfaat [].

 

 

Comments»

1. teddy - May 3, 2008

umur saya 20 tahun, kini saya bekerja di perusahaan retail di bandung. saya pernah baca buku dari robert keyosaki “rich dad and poor dad” dan buku itu mengubah pola pikir saya karena buku tsb membahas akan pola pikir orang kaya, memberikan beberapa pelajaran mengenai melek finansial, dan bagian bagian dalam buku itu dalam kehidupan riil saya benar-benar terjadi, saya dengan gaji pertama 400,000 merasa cukup, kemudian gaji saya naik menjadi 800,000 ternyata cukup namun tidak lebih. mungkin itu manusiawi yang menjadi pesan saya apakah saya sudah terlambat untuk melek finansial dan apakah dengan umur saya yang terbilang masih muda dapat melek finansial?

2. rizal - July 5, 2008

Assalamualaikum, saya berdua dengan teman sedang membuka usaha jasa yang menyediakan layanan wireless cafe. beberapa tagihan bulanan seperti Listrik, PDAM, dan telepon, sedangkan tahunan adalah biaya kontrak tempat usaha kami sebesar 10jt/tahun. Ongkos layanan kami untuk wairless adalah 2000/jam. Untuk cafe kami hanya menyediakan minuman dingin dan panas, di tambah seorang waitress. Untuk wairless kami bergantian untuk menjaga. Masalahnya kami bingung untuk melakukan manajemen keuangan bagaimana untuk kedepannya, karena pendapatan perhari tidak teratur (kadang rame kadang sepi) mohon berikan pencerahan kepada kami secara gamblang bagaimana mengatur income, dan pendapatan kami perhari, disertai cara pembukuan (kami belum berpengalaman dalam hal ini) trimakasih atas perhatiaannya. Wassalam. email saya rizal_sadict@yahoo.com . dan kalau bisa saya minta ID YM sampean supaya bisa sharing di YM jika OnLine.

3. EKA KURNIAWAN - October 16, 2008

Kecerdasan finansial sangat krusial dalam hidup. Tanpa kecerdasan finansial orang kaya akan cepat bangkrut dan orang miskin akan tambah miskin. Kecerdasan finasial memiliki 2 aspek, aspek teknis dan aspek emosional. Aspek teknis adalah cara kita mengelola uang dan aset berdasarkan hukum dan aturan finansial, artinya, kita paham bagaimana cara mengelola uang sehingga uang kita bertambah atau tetap tanpa harus bekerja keras. Sedangkan aspek emosional adalah daya dahan kita untuk mengendalikan diri agar tidak terjebak pada pengeluaran konsumtif dan liabilitas yang dapat mengacaukan rencana keuangan atau membuat miskin. Nah, saya setuju bahwa orang yang cerdas secara finasial pasti memiliki alokasi bisnis dan charity serta untuk kebutuhan sehari-hari. Saya sendiri setiap kali menerima uang akan otomatis membaginya menjadi 3, minimal 2,5% unutk sedekah, minimal 10% untuk bisnis dan sisanya untuk sehari-hari. Pola seperti ini membuat saya yakin bahwa say akan bebas secara finasial.

4. cahyani - May 6, 2010

ijin share ya…:-)

5. FQ = Financial Quotient « ManagingConsultant - March 1, 2011

[…] by bustanularifin […]

6. FQ = Financial Quotient « ManagingConsultant - March 1, 2011

[…] Kecerdasan Finansial […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: